Hari sudah malam, ketika pesawat Garuda Indonesia Airways, mendarat dengan mulus di Bandara Selaparang-Mataram NTB. (Selaparang, adalah kerajaan tertua yang pernah ada di Lombok). Kami rombongan kecil -Bupati, Kadishutbun, penulis dan ajudan, bergegas menuruni tangga pesawat. Udara hangat khas daerah pantai langsung menyergap, menyambut penulis yang baru pertama kali menjejakkan kaki di Gumi Selaparang (nama lain Pulau Lombok).
Wilayah Propinsi NTB (luas daratan 20.153,37 Km2), di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, di selatan dengan Samudera Hindia, sedangkan di timur dengan Selat Sepadan, dan di barat dengan Selat Lombok. Dengan wilayah yang menjadi lintas perdagangan ke Kawasan Timur Indonesia (Surabaya-Makasar), dan daerah lintas wisata dunia yang terkenal (Bali-Komodo-Tanah Toraja), propinsi ini sangat prospektif untuk berkembang. Secara administratif, NTB terdiri dari 7 Kabupaten/Kota, masing-masing tersebar di 2 pulau terbesar, yakni Pulau Lombok-terdiri dari Kota Mataram (ibu kota Propinsi), Kab Lombok Barat, Kab Lombok Tengah, Kab Lombok Timur serta Pulau Sumbawa-terdiri dari Kab Bima, Dompu, Sumbawa.
Dengan dijemput taksi, kami menyusuri jalan tinggalkan bandara. Kota Mataram dan sekitarnya sudah mulai sepi, hanya saja ketika melewati daerah wisata Pantai Senggigi, denyut kehidupan masih sangat terasa. Hotel-hotel, restaurant, café dan tempat hiburan tampak ramai, kerlip lampu-lampu, dentuman house musik, kerumunan dan lalu lalang orang, menambah kesan bahwa Pantai Senggigi sudah menjadi alternatif daerah tujuan wisata di Kawasan Timur Indonesia. Apalagi menjelang liburan Natal dan akhir tahun, wisatawan domestik dan mancanegara sudah dipastikan akan datang membanjiri daerah ini. 20 menit sudah, perjalanan darat kami tempuh, tidak terasa kami telah sampai di Hotel Puri Saron, tempat dimana kami menginap. Hotel dengan lokasi persis di bibir pantai yang berpasir putih, alami, tenang, bergaya resort dengan arsitektur unik khas suku sasak ( penduduk asli Pulau Lombok), menambah lelapnya tidur kami.
Setelah bangun pagi, ada dorongan kuat untuk melangkahkan kaki menuju pantai. Hal ini sangat wajar, saya yang terlahir dari ‘anak gunung’ sampai saat ini, masih merasakan pemandangan pantai merupakan sesuatu yang masih ‘agak aneh’. Tanpa ba-bi-bu lagi, tubuh saya larut dalam kecipak air di tepi pantai. Airnya yang bersih membiru, hamparan pasir putih, alunan ombak yang tenang serta pemandangan alam yang elok dan masih alami, membuat betah berlama-lama bermain di sini. Sejauh mata memandang, hamparan laut biru, nun jauh disana samar2 pulau bali terlihat di seberang lautan…sungguh pemandangan yang memukau ! Memang pantas, Pantai Senggigi keindahannya sering disebut-sebut melebihi eksotisme Pantai Kuta Bali !
Pantai Senggigi panjangnya sekitar 30 Km, terletak disebelah barat pesisir Lombok serta berdekatan dengan Bandara dan Pelabuhan Laut, sehingga pantai ini merupakan pusat daerah wisata pantai dengan akomodasi paling lengkap, mulai dari kemewahan hotel-hotel berbintang, restoran dan tempat hiburan yang berkelas sampai dengan yang sederhana, semuanya ada disini. Dengan pemandangan bawah lautnya yang sangat indah dan ombaknya yang tenang, tempat ini merupakan tujuan utama wisatawan yang hoby snorkeling.
Selain Senggigi, Masih banyak lagi tempat wisata yang sangat menarik di kawasan ini, seperti : Cakranegara, Gili Air, Gili Trawangan, Gunung Rinjani, Pantai Kuta-Lombok, dll.
Cuman sayang, karena keterbatasan waktu ( dan dana ..he.he.), penulis tdk bisa mengunjungi ke semua lokasi.
Pukul 08.00 pas, kami sdh berada di atas bus kecil menuju lokasi acara Puncak Aksi Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Dusun Empol, Desa Sekotong Tengah, Kec. Sekotong, Kab Lombok Barat. Dimana Dalam Acara ini, Bupati Kuningan akan mendapatkan penghargaan langsung dari Bapak Wakil Presiden, sebagai Bupati Pembina Kehutanan Terbaik I Tk Nasional (tulisan lengkap lihat ”Perjalanan Panjang Menyelamatkan Hutan Kuningan”).
Perjalanan menuju Sekotong, sungguh perjalanan yang tidak membosankan, perpaduan bukit-bukit yang menghijau, laut yang tenang dan jalan berkelok dengan aspal yang mulus, membuat perjalanan terasa sangat menyenangkan.
Dengan motto daerah Patut- Patuh- Patju, tidak salah Pemerintah Pusat menunjuk Kab. Lombok Barat sebagai tuan rumah acara ini. Sulit ditemukan, bukit-bukit yang meranggas gundul. Semuanya serba hijau, rindang dan cukup tertata apik. Masyarakat sudah sadar, betapa berartinya hutan bagi kehidupan mereka. Mungkin pesan ini lah yang ingin disampaikan Pemerintah Pusat kepada para undangan yang hadir.
Kurang lebih 1 jam perjalanan telah membawa kami sampai ke lokasi, Bapak Wapres M. Yusuf Kalla hadir pada acara ini, ada tersirat rasa bangga, ketika nama Bupati Kabupaten Kuningan dipanggil untuk menerima penghargaan dari beliau. Suatu penghargaan yang tidak main-main tentunya, ini membuktikan bahwa upaya jajaran Pemerintah Kabupaten Kuningan beserta masyarakatnya dalam mengelola hutan, telah mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari Pemerintah Pusat. Kuningan kembali telah menorehkan prestasi di Tingkat Nasional, mudah-mudahan ini semua akan membawa manfaat dan cambuk bagi kita, untuk lebih serius melestarikan hutan dan alam.
Acara demi acara digelar dengan tertib dan meriah, apalagi wajah-wajah yang tidak asing hadir pada acara itu, seperti : Marissa Haque dan Ebiet G.Ade. Sambil bersenandung, Ebiet mencoba mengingatkan kembali para hadirin tentang bencana yang sering mendera dan betapa pentingnya alam..
……..atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang…………
Setelah tuntas acara di Sekotong, ada acara yang lebih menarik lagi, yakni Bupati Kuningan mengundang Bapak Wagub Jabar yang kebetulan hadir pada acara itu, untuk makan siang ! Sengaja, tempat yang dipilih adalah Rumah Makan Sea Food ’99’ di jalan Subak, konon katanya paling lekker di seantero Mataram.
Dengan menu, Ikan Baronang Bakar saus lombok, udang dan cumi bumbu asam pedas, plecing kangkung yang khas, sungguh suatu cita rasa yang sangat menggoyang lidah !(emh..kalo gak malu mah, dibungkus kalee.. !)
Setelah puas memanjakan lidah, rombongan kami berpisah dengan rombongan Wagub. Sebelum menuju hotel, kami sempat mampir di tempat kerajinan assesories/perhiasan mutiara. Kerajinan mutiara asal Lombok sudah terkenal mendunia. Dengan kualitas prima, Mutiara dari Pulau Lombok banyak digemari dan diburu oleh para penggemar perhiasan. Kami sengaja datang langsung ke Karang Genteng suatu Kelurahan di Kota Mataram. Di tempat ini, mutiara yang kualitas bagus dapat diperoleh dengan harga miring. Konon katanya, pengrajin mutiara yang ada di Wilayah Mataram, berasal dari daerah ini. Sehingga tidak mengherankan, dari kualitas, model dan harga, mutiara disini menjadi buruan utama para wisatawan.
Setelah puas melihat-lihat (he.he..cuma melihat-lihat aja), kami langsung meluncur ke hotel untuk beristirahat.
Pak Yus namanya, asli orang lombok. Sore itu sudah siap mengantar penulis dengan mobilnya untuk berkeliling Kota Mataram. Tadinya ingin sekali penulis naik Cidomo-sejenis delman, beroda ban mobil. Tapi hal itu tidak mungkin, karena waktu yang sangat terbatas. Akhirnya dengan alunan nyanyian dari tape mobil yang terasa aneh ditelinga (lagu berbahasa Sasak, cengkok nadanya mirip dangdut) penulis diajak keliling kota. Mataram adalah kota yang cukup resik, jalan rata-rata sudah dua jalur dan beraspal mulus. Kantor-kantor pemerintah rata-rata terawat dan menempati lahan yang luas. Jalan-jalan protokol diteduhkan oleh pepohonan yang berfungsi juga sebagai penyeimbang hawa kota mataram yang panas. Kalau melihat ramainya, mengingatkan penulis pada Kota Cirebon.
Pak Yus menjelaskan, makanan khas daerah lombok adalah Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung. Ayam Taliwang terbuat dari ayam kampung muda yang diolah dengan cara dibakar atau digoreng, kemudian diberi bumbu/rempah dari daerah Lombok. Rasanya…..? wuih….Lekker, bo ! Apalagi dimakan sama Plecing Kangkung (semacam tumis kangkung lombok), dijamin, mata akan merem melek !
Setelah itu, penulis diajak ke Lipko di Jalan Sriwijaya, pusat kerajinan/pemasaran barang dan makanan khas Propinsi NTB. Di sana kita akan mendapatkan jajanan dan oleh-oleh yang berkelas, seperti : Kerajinan, kaos, dodol, madu, dll. Walaupun agak mahal, tapi oleh-oleh yang dibeli dari sini dijamin kualitasnya.
Hari Menjelang sore, penulis bergegas pulang menuju hotel. Di perjalanan, masih sempat berhenti di Pasar Seni di daerah Pantai Smoenggigi. Barang-barang yang ditawarkan disini lebih variatif dan lebih murah. Di Belakang Pasar Seni, tampak kerumunan wisatawan di hamparan pasir putih menunggu momen Sunset, yang memang menjadi maskot wisatawan di pantai ini.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, membentuk siluet indah di kaki langit. Semburat merah-jingga membayang jelas di air laut yang tenang. Sungguh sempurna, Lukisan alam dari sang maestro sejati. Pantas memang, ada istilah seseorang belum bisa dikatakan sebagai traveler sejati kalau belum menjejakkan kaki dan menyaksikan Sunset di Senggigi!
Tepat pukul 19.30 WITA, kami take off tinggalkan Bandara Selaparang menuju Jakarta. Walau kunjungan singkat, tapi banyak kesan mendalam kami peroleh. Ada keinginan kuat kembali ke pulau ini, untuk lebih menikmati dan merasakan desir angin, alunan ombak, suasana hangat dari Bumi Lombok, surga tersembunyi di timur Indonesia.
Semoga Kuningan di masa depan bisa mengemas potensi pariwisatanya seperti halnya Lombok, sehingga lebih diminati para wisatawan.
Sila Lalu Gumi Selaparang,
Sampe te bedait malik……..!
(Selamat tinggal Pulau Lombok,
Sampai kita jumpa lagi……….)
( by. Dian Rachmat Yanuar)