Wednesday, February 21, 2007

KORPRI PEDULI LINGKUNGAN

Pada akhir Desember 2006, Bupati Kuningan memperoleh penghargaan sebagai Bupati Peduli Kehutanan Terbaik Pertama Tingkat Nasional di Desa Sekotong Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Penghargaan tersebut diserahkan pada acara puncak Aksi Rehabilitasi Hutan dan Lahan Tingkat Nasional yang dibuka Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla. Keberhasilan tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh masyarakat Kuningan dalam mengelola hutan, tanah dan air. Pengelolaan sumberdaya alam hutan, tanah dan air di Kuningan memang perlu ditingkatkan sehingga betul-betul memberikan manfaat dan dampak, sosial, ekonomi, dan ekologis yang nyata bagi masyarakat Kuningan. Apalagi kondisi geografis dan topografis sumberdaya alam Kabupaten Kuningan cukup strategis sebagai daerah perlindungan dan sistem penyangga kehidupan bagi daerah sekitarnya.
Sebagai bentuk nyata usaha pelestarian lingkungan tersebut, dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Korpri ke-35 bertempat di Kebun Raya Kuningan, Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, Korpri menggelar bhakti sosial dengan melaksanakan Gerakan “Korpri Peduli Lingkungan” dalam bentuk penanaman 1000 batang pohon buah-buahan. Pohon yang ditanam antara lain, pohon mangga, durian, bibit pohon langka, dan sebagainya. Dari pelaksanaan kegiatan ini diharapkan seluruh anggota Korpri dan keluarganya bisa menjadi teladan bagi seluruh masyarakat untuk melestarikan dan menanam kembali lahan-lahan kritis yang ada di lingkungan kita masing-masing.
Bupati Kuningan, H. Aang Hamid Suganda menyampaikan bahwa bencana yang terjadi akhir-akhir ini, salah satunya disebabkan oleh kerusakan hutan dan lahan. Penebangan hutan karena keserakahan dan ketamakan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tanpa diikuti penanaman yang mengakibatkan terjadinya banjir, longsor, kekeringan, dan perubahan iklim. Menebang satu pohon hanya memerlukan waktu 20 menit, tetapi untuk mendapatkan satu pohon kita memerlukan waktu tidak kurang dari 20 tahun. Sementara harga yang kita dapatkan berupa dampak akibat kerusakan sumberdaya alam lebih mahal dari nilai kayu atau pohon yang kita tebang. Di sisi lain, laju rehabilitasi hutan dan lahan selalu lebih rendah dan tidak dapat mengimbangi laju kerusakan hutan dan lahan karena keterbatasan kemampuan pemerintah. Oleh karena itu, upaya rehabilitasi hutan dan lahan pada hari ini, merupakan salah satu bentuk implementasi dari kepedulian warga Korpri pada lingkungan.
Pada kesempatan yang sama, Bupati Kuningan menghimbau pada para pendaki untuk tidak melakukan pendakian pasca kebakaran hutan yang melanda TNGC. “Saya meragukan jiwa patriotisme para pendaki dalam menjaga dan melestarikan Hutan Gunung Ciremai, jika mereka memaksa untuk melakukan pendakian.” Tandasnya. “Berilah kesempatan kepada alam untuk melakukan pemulihan setelah TNGC mengalami kebakaran yang mengakibatkan kerusakan hutan yang cukup parah”, tegasnya.
Bupati Kuningan juga berharap bahwa pembangunan Kebun Raya Kuningan di Desa Padabeunghar ini, sebagai langkah strategis dalam pola pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari dan fungsi. Pembangunan kebun raya dilakukan dengan pendekatan multisektor, dan multidisiplin ilmu, yang bertujuan untuk konservasi dan mampu memberikan manfaat social dan ekonomi, seperti menciptakan lapangan pekerjaan, menyediakan laboratorium alam sebagai sarana penelitian, penunjang pendidikan, dan pariwisata. Untuk itu, upaya dalam rangka percepatan rehabilitasi hutan lahan kritis akan terus ditingkatkan melalui GRLK, GERHAN, Hutan Kota, persemaian bergulir serta Pengantin Peduli Lingkungan. Mudah-mudahan upaya ini akan memperkuat komitmen Kuningan yang telah bertekad menetapkan diri sebagai Kabupaten Konservasi.

DELMAN

“…datut sirpa, kuda kentut kusir nu nampa
sirtut pangpa, kusir hitut panumpang nu nampa
pangtut, belengin, panumpang nuhiytut kabawa angin ..”


Tebak-tebakan itu, sekarang sudah jarang dijadikan sebagi pengisi waktu oleh para orang tua pada anak-anaknya . tebak-tebakan yang menggambarkan betapa ruginya jika menjadi penumpang delman seandainya kuda atau kusirnya kentut. Delman, itulah salah satu nama dari banyak lagi nama yang menjadi sebutan bagi kendaraan angkut tradisional ini. Seperti di Jogjakarta mereka menyebutnya Andong, di Sukabumi disebut dengan nama Nayor, di daerah Sumatera disebut Bendi, di wilayah Priangan disebut Keretek, sedangkan untuk di Kuningan sendiri lebih ngetop dengan sebutan Per.
Tentang keberadaan Per atau delman, ternyata masih banyak yang kita tidak tahu mengenai pernak-perniknya. Dan kendaraan tradisional inipun tidak akan bisa eksis lalu lalang di jalan-jalan Kab. Kuningan jika tidak didukung oleh keberadaan bengkel delman, salah satunya adalah bengkel delman yang berada di Jl. RE. Martadinata yang dikelola oleh Bpk, Suherman.
“seseringnya sih, hanya perbaikan roda delman dan ganti sepatu (ladam kuda), rata-rata seekor kuda membutuhkan 1 stel ladam kuda (4 buah) dalam satu minggu. Cara memasangnya dipaku ke dalam kuku kuda yang tebal”. Untuk satu set karoseri delman yang bagus dan terbuat dari kayu pilihan rata-rata di jual dengan harga rp. 3.000.000.- jadi jika penikmat purbawisesa ingin memiliki satu set delman dengan kuda yang gagah cukup siapkan dana sebesar rp. 6.000.000.- dan anda pun sudah dapat memilikinya.
Lalu dimana kita bisa mendapatkan kuda-kuda yang dikenal dengan nama kuda Kuningan itu, karena di Kuningan sendiri tidak ada tempat peternakan kuda, ternyata Kuda-kuda yang beredar di Kuningan dan menjadi kuda beban itu bisa dibeli di daerah Brebes/Tegal yang mempunyai pasar kuda, dan kuda-kuda tersebut ternyata didatangkan dari daerah Sumbawa propinsi Nusa Tenggara Barat melalui pelabuhan Surabaya.
Tapi penulis sarankan para penikmat Purbawisesa jangan langsung tertarik dan berniat untuk dapat memiliki delman dengan kudanya meski harganya tidak terjangkau, kalau tidak hapal betul cara merawat dan mendidik serta menangani kuda, karena kuda juga sama seperti manusia punya rasa manja ingin disayang, diperhatikan, dan punya rasa takut pada sesuatu. Sebagai contoh; kalau kita melihat kuda yang “rarad” susah dikendalikan ternyata penyebabnya adalah hal yang sepele dan berasal dari rasa takutnya pada sesuatu.
“…araneh memang pak, aya kuda nu sieun ku kantong keresek, sieun ku mobil box, sieun ku gotrok, malihan aya nu sieun ku warna beureum sagala; sapertos kuda abdi ieu, pami nuju jalan teras aya kantong keresek hiber pasti kudana rarad…” belum lagi perawatan extra lainya, seperti memandikan kuda dengan air hangat jika kuda terlihat seperti kena flu, memijat kaki dan badanya, lalu minimal seminggu sekali di kasih ramuan jamu yang terdiri dari kuning telor bebek, pil kita, racikan dari jahe dan daun-daun lainnya yang dianggap memiliki khasiat tersendiri bagi si kuda.
Dan banyaknya delman itu sendiri, tidak terlepas dari keberadaan juragan-juragan delman yang menyewakan delmanya dengan memakai pola bagi hasil secara 50-50 dengan para kusirnya, hitunganya jika dalam sehari pendapatan satu delman rp. 30.000.- maka setelah dipotong beli dedak dan rumput untuk kuda sebesar rp. 8000.- maka sisanya rp. 22.000., di bagi dua antara kusir delman dengan juragannya. Juragan-juragan delman itu bisa kita temui di daerah Winduherang, Sidapurna, Lebak Kardin, Cijoho Landeuh, Cijoho Buana dan Winduhaji.
Meskipun di jalanan kita sering mendengar omelan-omelan dari para supir tentang keberadaan delman di Kuningan, hal itu tidak akan bisa dijadikan sebagai alasan untuk menghapus kendaraan tradisional mascot Kuningan ini, tinggal bagaimana kita bisa menata, mendidik dan mengarahkan para kusir dan juragan delman untuk lebih mematuhi rambu-rambu lalu lintas dan menjaga kebersihan kota, dari kotoran-kotoran kuda yang masih saja tercecer di jalanan. Sehingga Kuningan ASRI bisa terwujud dan Adipurapun dapat diraih.

Catatan Pinggir Perjalanan Ke Lombok

Hari sudah malam, ketika pesawat Garuda Indonesia Airways, mendarat dengan mulus di Bandara Selaparang-Mataram NTB. (Selaparang, adalah kerajaan tertua yang pernah ada di Lombok). Kami rombongan kecil -Bupati, Kadishutbun, penulis dan ajudan, bergegas menuruni tangga pesawat. Udara hangat khas daerah pantai langsung menyergap, menyambut penulis yang baru pertama kali menjejakkan kaki di Gumi Selaparang (nama lain Pulau Lombok).
Wilayah Propinsi NTB (luas daratan 20.153,37 Km2), di sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, di selatan dengan Samudera Hindia, sedangkan di timur dengan Selat Sepadan, dan di barat dengan Selat Lombok. Dengan wilayah yang menjadi lintas perdagangan ke Kawasan Timur Indonesia (Surabaya-Makasar), dan daerah lintas wisata dunia yang terkenal (Bali-Komodo-Tanah Toraja), propinsi ini sangat prospektif untuk berkembang. Secara administratif, NTB terdiri dari 7 Kabupaten/Kota, masing-masing tersebar di 2 pulau terbesar, yakni Pulau Lombok-terdiri dari Kota Mataram (ibu kota Propinsi), Kab Lombok Barat, Kab Lombok Tengah, Kab Lombok Timur serta Pulau Sumbawa-terdiri dari Kab Bima, Dompu, Sumbawa.
Dengan dijemput taksi, kami menyusuri jalan tinggalkan bandara. Kota Mataram dan sekitarnya sudah mulai sepi, hanya saja ketika melewati daerah wisata Pantai Senggigi, denyut kehidupan masih sangat terasa. Hotel-hotel, restaurant, café dan tempat hiburan tampak ramai, kerlip lampu-lampu, dentuman house musik, kerumunan dan lalu lalang orang, menambah kesan bahwa Pantai Senggigi sudah menjadi alternatif daerah tujuan wisata di Kawasan Timur Indonesia. Apalagi menjelang liburan Natal dan akhir tahun, wisatawan domestik dan mancanegara sudah dipastikan akan datang membanjiri daerah ini. 20 menit sudah, perjalanan darat kami tempuh, tidak terasa kami telah sampai di Hotel Puri Saron, tempat dimana kami menginap. Hotel dengan lokasi persis di bibir pantai yang berpasir putih, alami, tenang, bergaya resort dengan arsitektur unik khas suku sasak ( penduduk asli Pulau Lombok), menambah lelapnya tidur kami.
Setelah bangun pagi, ada dorongan kuat untuk melangkahkan kaki menuju pantai. Hal ini sangat wajar, saya yang terlahir dari ‘anak gunung’ sampai saat ini, masih merasakan pemandangan pantai merupakan sesuatu yang masih ‘agak aneh’. Tanpa ba-bi-bu lagi, tubuh saya larut dalam kecipak air di tepi pantai. Airnya yang bersih membiru, hamparan pasir putih, alunan ombak yang tenang serta pemandangan alam yang elok dan masih alami, membuat betah berlama-lama bermain di sini. Sejauh mata memandang, hamparan laut biru, nun jauh disana samar2 pulau bali terlihat di seberang lautan…sungguh pemandangan yang memukau ! Memang pantas, Pantai Senggigi keindahannya sering disebut-sebut melebihi eksotisme Pantai Kuta Bali !
Pantai Senggigi panjangnya sekitar 30 Km, terletak disebelah barat pesisir Lombok serta berdekatan dengan Bandara dan Pelabuhan Laut, sehingga pantai ini merupakan pusat daerah wisata pantai dengan akomodasi paling lengkap, mulai dari kemewahan hotel-hotel berbintang, restoran dan tempat hiburan yang berkelas sampai dengan yang sederhana, semuanya ada disini. Dengan pemandangan bawah lautnya yang sangat indah dan ombaknya yang tenang, tempat ini merupakan tujuan utama wisatawan yang hoby snorkeling.
Selain Senggigi, Masih banyak lagi tempat wisata yang sangat menarik di kawasan ini, seperti : Cakranegara, Gili Air, Gili Trawangan, Gunung Rinjani, Pantai Kuta-Lombok, dll.
Cuman sayang, karena keterbatasan waktu ( dan dana ..he.he.), penulis tdk bisa mengunjungi ke semua lokasi.
Pukul 08.00 pas, kami sdh berada di atas bus kecil menuju lokasi acara Puncak Aksi Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) di Dusun Empol, Desa Sekotong Tengah, Kec. Sekotong, Kab Lombok Barat. Dimana Dalam Acara ini, Bupati Kuningan akan mendapatkan penghargaan langsung dari Bapak Wakil Presiden, sebagai Bupati Pembina Kehutanan Terbaik I Tk Nasional (tulisan lengkap lihat ”Perjalanan Panjang Menyelamatkan Hutan Kuningan”).

Perjalanan menuju Sekotong, sungguh perjalanan yang tidak membosankan, perpaduan bukit-bukit yang menghijau, laut yang tenang dan jalan berkelok dengan aspal yang mulus, membuat perjalanan terasa sangat menyenangkan.
Dengan motto daerah Patut- Patuh- Patju, tidak salah Pemerintah Pusat menunjuk Kab. Lombok Barat sebagai tuan rumah acara ini. Sulit ditemukan, bukit-bukit yang meranggas gundul. Semuanya serba hijau, rindang dan cukup tertata apik. Masyarakat sudah sadar, betapa berartinya hutan bagi kehidupan mereka. Mungkin pesan ini lah yang ingin disampaikan Pemerintah Pusat kepada para undangan yang hadir.
Kurang lebih 1 jam perjalanan telah membawa kami sampai ke lokasi, Bapak Wapres M. Yusuf Kalla hadir pada acara ini, ada tersirat rasa bangga, ketika nama Bupati Kabupaten Kuningan dipanggil untuk menerima penghargaan dari beliau. Suatu penghargaan yang tidak main-main tentunya, ini membuktikan bahwa upaya jajaran Pemerintah Kabupaten Kuningan beserta masyarakatnya dalam mengelola hutan, telah mendapat apresiasi yang sangat tinggi dari Pemerintah Pusat. Kuningan kembali telah menorehkan prestasi di Tingkat Nasional, mudah-mudahan ini semua akan membawa manfaat dan cambuk bagi kita, untuk lebih serius melestarikan hutan dan alam.
Acara demi acara digelar dengan tertib dan meriah, apalagi wajah-wajah yang tidak asing hadir pada acara itu, seperti : Marissa Haque dan Ebiet G.Ade. Sambil bersenandung, Ebiet mencoba mengingatkan kembali para hadirin tentang bencana yang sering mendera dan betapa pentingnya alam..
……..atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita, coba kita bertanya pada Rumput yang bergoyang…………

Setelah tuntas acara di Sekotong, ada acara yang lebih menarik lagi, yakni Bupati Kuningan mengundang Bapak Wagub Jabar yang kebetulan hadir pada acara itu, untuk makan siang ! Sengaja, tempat yang dipilih adalah Rumah Makan Sea Food ’99’ di jalan Subak, konon katanya paling lekker di seantero Mataram.
Dengan menu, Ikan Baronang Bakar saus lombok, udang dan cumi bumbu asam pedas, plecing kangkung yang khas, sungguh suatu cita rasa yang sangat menggoyang lidah !(emh..kalo gak malu mah, dibungkus kalee.. !)
Setelah puas memanjakan lidah, rombongan kami berpisah dengan rombongan Wagub. Sebelum menuju hotel, kami sempat mampir di tempat kerajinan assesories/perhiasan mutiara. Kerajinan mutiara asal Lombok sudah terkenal mendunia. Dengan kualitas prima, Mutiara dari Pulau Lombok banyak digemari dan diburu oleh para penggemar perhiasan. Kami sengaja datang langsung ke Karang Genteng suatu Kelurahan di Kota Mataram. Di tempat ini, mutiara yang kualitas bagus dapat diperoleh dengan harga miring. Konon katanya, pengrajin mutiara yang ada di Wilayah Mataram, berasal dari daerah ini. Sehingga tidak mengherankan, dari kualitas, model dan harga, mutiara disini menjadi buruan utama para wisatawan.
Setelah puas melihat-lihat (he.he..cuma melihat-lihat aja), kami langsung meluncur ke hotel untuk beristirahat.
Pak Yus namanya, asli orang lombok. Sore itu sudah siap mengantar penulis dengan mobilnya untuk berkeliling Kota Mataram. Tadinya ingin sekali penulis naik Cidomo-sejenis delman, beroda ban mobil. Tapi hal itu tidak mungkin, karena waktu yang sangat terbatas. Akhirnya dengan alunan nyanyian dari tape mobil yang terasa aneh ditelinga (lagu berbahasa Sasak, cengkok nadanya mirip dangdut) penulis diajak keliling kota. Mataram adalah kota yang cukup resik, jalan rata-rata sudah dua jalur dan beraspal mulus. Kantor-kantor pemerintah rata-rata terawat dan menempati lahan yang luas. Jalan-jalan protokol diteduhkan oleh pepohonan yang berfungsi juga sebagai penyeimbang hawa kota mataram yang panas. Kalau melihat ramainya, mengingatkan penulis pada Kota Cirebon.
Pak Yus menjelaskan, makanan khas daerah lombok adalah Ayam Taliwang dan Plecing Kangkung. Ayam Taliwang terbuat dari ayam kampung muda yang diolah dengan cara dibakar atau digoreng, kemudian diberi bumbu/rempah dari daerah Lombok. Rasanya…..? wuih….Lekker, bo ! Apalagi dimakan sama Plecing Kangkung (semacam tumis kangkung lombok), dijamin, mata akan merem melek !
Setelah itu, penulis diajak ke Lipko di Jalan Sriwijaya, pusat kerajinan/pemasaran barang dan makanan khas Propinsi NTB. Di sana kita akan mendapatkan jajanan dan oleh-oleh yang berkelas, seperti : Kerajinan, kaos, dodol, madu, dll. Walaupun agak mahal, tapi oleh-oleh yang dibeli dari sini dijamin kualitasnya.
Hari Menjelang sore, penulis bergegas pulang menuju hotel. Di perjalanan, masih sempat berhenti di Pasar Seni di daerah Pantai Smoenggigi. Barang-barang yang ditawarkan disini lebih variatif dan lebih murah. Di Belakang Pasar Seni, tampak kerumunan wisatawan di hamparan pasir putih menunggu momen Sunset, yang memang menjadi maskot wisatawan di pantai ini.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, membentuk siluet indah di kaki langit. Semburat merah-jingga membayang jelas di air laut yang tenang. Sungguh sempurna, Lukisan alam dari sang maestro sejati. Pantas memang, ada istilah seseorang belum bisa dikatakan sebagai traveler sejati kalau belum menjejakkan kaki dan menyaksikan Sunset di Senggigi!
Tepat pukul 19.30 WITA, kami take off tinggalkan Bandara Selaparang menuju Jakarta. Walau kunjungan singkat, tapi banyak kesan mendalam kami peroleh. Ada keinginan kuat kembali ke pulau ini, untuk lebih menikmati dan merasakan desir angin, alunan ombak, suasana hangat dari Bumi Lombok, surga tersembunyi di timur Indonesia.
Semoga Kuningan di masa depan bisa mengemas potensi pariwisatanya seperti halnya Lombok, sehingga lebih diminati para wisatawan.

Sila Lalu Gumi Selaparang,
Sampe te bedait malik……..!
(Selamat tinggal Pulau Lombok,
Sampai kita jumpa lagi……….)

( by. Dian Rachmat Yanuar)

Dibuka...Kantor Pelayanan Perizinan

Kabar baik muncul untuk masyarakat Kuningan di awal 2007. Pada akhir Januari lalu (29/1) Bupati Kuningan melantik pejabat structural Esselon III dan IV untuk ditempatkan di Kantor Pelayanan Perizinan (KPP) yang akan diresmikan tidak lama lagi. Pelantikan kali ini merupakan implementasi dari Peraturan Daerah Kabupaten Kuningan Nomor 21 tahun 2006 tentang Pembentukan, Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelayanan Perizinan Kabupaten Kuningan.
Kantor Pelayanan Perizinan dibentuk untuk memudahkan masyarakat Kuningan yang akan menyelesaikan Perizinan tertentu, hanya dengan mendatangi satu pintu dengan aturan yang jelas dan pasti. Dengan demikian, mereka dapat menyelesaikan proses Perizinan dengan mudah. Adanya kemudahan ini diharapkan akan membuat masyarakat dan dunia usaha lebih tertarik untuk menanamkan investasi di Kuningan. Pembentukan Kantor Pelayanan Perizinan dibentuk sebagai salah satu bukti bahwa Pemkab Kuningan selalu berusaha untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
Bupati Kuningan menyampaikan, “Saya minta dukungan SKPD yang selama ini menangani Perizinan agar sepenuhnya mendukung keberadaan KPP. Tinggalkan ego sektoral yang akan menghambat kepada pelayanan masyarakat. Sebab pada dasarnya Pemkab Kuningan adalah satu kesatuan yang harus saling mendukung untuk bersama-sama memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat”, tegasnya. Kepada para pejabat terpilih, Bupati Kuningan berpesan untuk senantiasa memberikan pelayanan prima dan memuaskan bagi masyarakat, agar citra pemerintah Kabupaten Kuningan semakin baik. Oleh karenanya, kejujuran, profesionalisme dan tanggung jawab menjadi keharusan bagi mereka yang ditempatkan di KPP ini.
Itikad Pemkab Kuningan untuk membentuk KPP ini jelas harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat dan birokrat. Apalagi di tengah buruknya kepercayaan masyarakat terhadap aparatur pemerintah terutama di sector pelayanan public. Kenyataan ini bukan hanya terjadi di Kuningan tapi di seluruh Indonesia. Kesan bahwa birokrasi identik dengan prosedur yang berbelit-belit dan mempersulit urusan adalah hal yang lumrah. Belum lagi adanyan unsur nepotisme, kolusi dan korupsi dalam pelayanan sektor publik. Bahkan dalam pelayanan public ini muncul jargon “Kalau masih bisa dipersulit, kenapa harus dipermudah?”
Dengan kondisi seperti ini, perubahan paradigma pelayanan publik sudah sangat mendesak untuk dilaksanakan. Pelayanan pada masyarakat di masa datang itu hendaknya makin baik (better), makin cepat (faster), makin baru (newer), makin murah (cheaper), dan makin sederhana (more simple). Pelayanan yang diberikan harus mengacu pada kepuasan pelanggan. Bagi aparatur pemerintah, aparatur pelayanan dihadapkan pada tantangan membangun budaya organisasi, yaitu agar semua orang yang berada di lingkungan organisai bertujuan untuk memuaskan pelanggan. Kepuasan pelanggan merupakan tujuan utama pelayanan prima.
Dalam meningkatkan mutu pelayanan ada beberapa dimensi yang harus diperhatikan, yaitu ketepatan waktu pelayanan, yang terkait dengan waktu tunggu dan waktu proses. Juga akurasi pelayanan, yang berkaitan dengan reliabilitas pelayanan dan bebas dari kesalahan pelayanan. Selain itu, dimensi kesopanan dan keramahan dalam memberikan pelayanan, terutama bagi mereka yang berinteraksi langsung dengan pelanggan. Tanggung jawab, merupakan dimensi pelayanan yang juga sangat penting, yang berkaitan dengan lingkup pelayanan dan ketersediaan sarana pendukung. Kemudahan pelayanan, berkaitan dengan kesiapan petugas dan fasilitas pendukung yang dimiliki, seperti komputer. Variasi model pelayanan, yang berkaitan dengan ”inovasi” untuk memberikan pola-pola baru dalam pelayanan. Pelayanan pribadi, berkaitan dengan fleksibilitas, penanganan permintaan-permintaan khusus, dan sebagainya. Yang tidak kalah penting dalam dimensi pelayanan adalah kenyamanan dalam memperoleh pelayanan, berkaitan dengan lokasi, ruang dan tempat pelayanan, keterjangkauan, ketersediaan informasi, dan lain-lain.

Yang terakhir adalah atribut pendukung pelayanan lainnya seperti lingkungan, kebersihan ruang tunggu, fasilitas musik, AC, dan lain-lain.
Tampaknya masih butuh waktu bagi KPP Kuningan untuk mewujudkan hal tersebut. Namun persiapan-persiapan ke arah sna telah dilakukan. Salah satunya dengan memberikan pelatihan NLP (Neuro Linguistic Programme) kepada personil yang akan ditempatkan di KPP Kuningan. Pelatihan NLP disampaikan oleh nara sumber ahli dari London School Jakarta. Saat dihubungi Purbawisesa Crew, Kabag Organisasi, Drs. Maman Suherman, mengatakan ”Butuh personil dengan karakter khusus untuk mengelola KPP ini. Selain pembawaan pribadi yang ramah, personil KPP juga harus punya komitmen tinggi untuk melayani publik. Mereka harus berorientasi pada kepuasan konsumen dan tidak boleh memikirkan imbalan atas pelayanan yang diberikan. Untuk tujuan itulah, pelatihan NLP ini diberikan”.
Saat ini KPP Kuningan memang belum diaktifkan, karena sedang pada tahap konsolidasi personil dan brain storming dengan Bagian Organisasi Setda Kabupaten Kuningan yang menggodok dan meramu dasar-dasar pendirian KPP ini. Sebelumnya juga telah dilakukan studi kelayakan untuk mendirikan KPP ini selain studi banding ke Kabupaten Lumajang, Sidoarjo, Pasuruan, Jembrana, Sragen dan Purbalingga. Tapi yang banyak diadopsi adalah kedua daerah yang disebutkan terakhir. Kedua kota tersebut menjadi perbandingan, karena memiliki karakter kota yang hampir sama dengan Kabupaten Kuningan. Kuningan mengadopsi hal-hal yang bagus dan cocok diterapkan di Kuningan. Sementara pelayanan dengan sistem on-line atau penggunaan e-government, Kuningan masih perlu berbenah diri mengingat baru tahun 2006, Kuningan baru memulai penerapan e-gov ini. Namun kedepan hal ini menjadi perhatian khusus Pemkab Kuningan. Maklumlah sekarang adalah masanya masyarakat kita melek informasi dan teknologi, jika pemerintah tidak segera mengadopsi modernisasi ini, pelayanan publik yang diberikan tidak bisa sempurna.
Tentunya pendirian KPP ini bukan tanpa kendala, terutama dari SKPD yang sebelumnya menangani perizinan ini. Sudah jadi rahasia umum, jika banyak pejabat di dinas/instansi pemerintah yang enggan ’menyerahkan’ wewenangnya untuk dijalnkan KPP. Mengurus dokumen perizinan ibarat ’lahan’ basah setiap dinas/instansi. Tapi akhirnya kendala tersebut dapat terkalahkan oleh komitmen kuat untuk menciptakan Kuningan yang terbuka bagi para investor. Melalui KPP, rantai birokrasi, tahapan prosedur yang harus dilalui, lamanya waktu sampai jumlah biaya yang harus dikeluarkan bisa dipangkas dan diketahui dengan mudah oleh publik. Komitmen ini tertuang dalam bentuk Surat Pernyataan dari Kepala SKPD pada tanggal 4 Juli 2006 untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik di Kabupaten Kuningan.
Langkah-langkah operasional dalam rangka perbaikan penyelenggaraan pelayanan publik di Kabupaten Kuningan telah disusun dalam rencana kegiatan, meliputi Tahap Inisiasi (2006) yaitu kegiatan-kegiatan dalam level policy, seperti penyusunan Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Publik di Kabupaten Kuningan, deregulasi perizinan, studi banding pelayanan publik, workshop pengembangan sistem pelayanan publik, dan membangun komitmen. Selanjutnya, Tahap Instalasi (2006-2007) yaitu kegiatan-kegiatan dalam level organisasional dan operasional, yaitu peningkatan SDM aparatur, penyusunan Raperda Kelembagaan Pelayanan Publik Satu Pintu, penataan sarana dan prasarana, pembangunan sistem pelayanan publik (e-government), dan uji coba pelayanan publik satu pintu. Tahap konsolidasi (2007-2008), yaitu thapan dalam mengkoordinasikan aspek-aspek yang telah dibangun dalam tahap instalasi, meliputi pembentukan tim pembina penyelenggaraan pelayanan publik, koordinasi, monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pelayanan publik. Tahap stabilisasi (2008), yaitu tahapan dimana sistem telah berjalan secara efektif, namun masih diperlukan adanya upaya pemeliharaan dan peningkatan, meliputi peningkatan status kelembagaan menjadi dinas, peningkatan saranan dan prasaranan dan pengembangan sistem pelayanan.
Kuningan boleh berbangga karena untuk daerah Jawa Barat, Kuningan adalah pelopor dalam pembentukan KPP ini. Semoga hal ini dapat dijadikan cambuk bagi kita untuk memberikan pelayan prima kepada publik.

PESIK...OPTIMIS TEMBUS DIVISI 1

Pengalaman berharga didapat oleh PESIK, tim kesayangan warga Kuningan ini berkesempatan untuk menjajal kekuatan tim-tim yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia.
PESIK yang akan berlaga di divisi II Liga Indonesia pada musim kompetisi yang akan datang, merasakan bagaimana bermain dengan tim yang berasal dari Divisi Utama Liga Indonesia, yaitu Persija, Persib dan Persikota. Kesempatan itu datang pada pertandingan uji coba yang digelar pada hari Jum’at tanggal 19 Januari 2007, bertempat di Stadion Mashud Wisnusaputra.
Persija adalah tim pertama yang mengadakan pertandingan uji coba dengan PESIK. Turun dengan kekuatan penuh Persija menepati janjinya untuk bermain maksimal, hal tersebut dibuktikan dengan gol cepat yang terjadi pada menit ke-1, berawal dari sebuah pelanggaran diluar kotak pinalti tim PESIK. Capreta, gelandang serang kiri dari Persija mampu menjebol gawang PESIK lewat tendangan bebasnya. Berselang 19 menit Persija kembali membuktikan ketajamannya lewat gol yang tercipta oleh penyerang Aliyudin.
Pada babak kedua Persija menurunkan tempo permainannya dengan mengganti sejumlah pemain intinya. Ternyata dengan digantinya beberapa pemain inti dari Persija, PESIK mampu mengimbangi permainan dari Persija. Namun demikian, sampai peluit akhir dibunyikan PESIK gagal untuk menciptakan gol, pertandingan berakhir 2-0 untuk kemenangan tim tamu Persija.
Pada pertandingan uji coba yang kedua, PESIK menjajal tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat, Persib. Tim yang dijuluki Maung Bandung tersebut menguji coba Tim PESIK, pada hari Minggu tanggal 21 Januari 2007 di Stadion Mashud Wisnusaputra. Pertandingan tersebut ditandai dengan hattrick yang dicetak Cristian Bekamenga pada menit ke-6, 37, dan 50, serta gol yang dicetak oleh penyerang tim Nasional Zaenal Arif pada menit 22.
Dalam pertandingan yang disaksikan oleh puluhan ribu penonton tersebut Persib tampil menyerang sejak peluit kick off pertandingan dimulai. Persib membuka pertandingan dengan gol pertama pada menit ke 6, melalui sundulan Cristian Bekamenga yang memanfaatkan bola rebound dikotak penalti PESIK Kuningan. Walaupun ditekan sepanjang pertandingan PESIK Kuningan mampu beberapa kali membahayakan gawang Persib, bahkan pada menit ke 14 PESIK hampir saja menyamakan kedudukan, kalau saja tembakan Irvan Rosdiyanto tidak membentur tiang gawang Persib.

Gol kedua justru kembali diciptakan oleh Persib, umpan matang Eka Ramdani mampu diselesaikan dengan baik oleh Zaenal Arif 2-0 untuk Persib. Gol ketiga tercipta pada menit ke-37 oleh penyerang asal kamerun Christian Bekamenga.
Memasuki babak kedua Persib masih terus mendominasi permainan. Melubernya penonton kepinggir lapangan tidak mempengaruhi Persib untuk terus tampil menyerang. Babak kedua baru berlangsung lima menit Cristian Bekamenga memastikan hattrick-nya lewat sontekannya berhasil membobol gawang PESIK 4-0 untuk keunggulan Persib Maung Bandung. Namun pada menit ke-69 Persib harus bermain dengan sepuluh orang menyusul dikartumerahkannya pemain bertahan Persib Nyeck Nyobe menyusul kartu kuning kedua yang diterima oleh pemain tersebut. Sampai peluit akhir dibunyikan Persib tetap unggul 4-0.
Pertandingan uji coba PESIK melawan Persikota Tanggerang dilaksanakan pada Rabu tanggal 24 Januari 2007, masih bertempat di Stadion Mashud Wisnusaputra. Persikota yang merupakan tim yang berasal dari divisi utama dan diperkuat oleh lima pemain asing gagal mengalahkan tuan rumah PESIK. Bahkan Persikota ketinggalan lebih dulu oleh gol yang diciptakan oleh penyerang PESIK, Sindang Jono pada menit ke-22. Persikota baru mampu menyamakan kedudukan pada pertengahan babak ke dua oleh penyerangnya asal Kamerun, Batoum Roger di menit-62. Walaupun Persikota terus memborbardir pertahanan PESIK tetapi tetap gagal menambah gol 1-1 kedudukan untuk ke 2 tim.
Pada pertandingan uji coba keempat PESIK kembali menjajal kekuatan “Tim Macan Kemayoran” Persija, berlangsung pada Sabtu 27 Januari 2007 di Stadion kebanggaan masyarakat Kuningan Stadion Mashud Wisnusaputra. Persija yang kembali diperkuat oleh pemain-pemain Timnas yang baru kembali dari Singapura seusai berlaga di piala AFF. Bambang Pamungkas, Agus Indra Kurniawan, Ismed Sofyan langsung diturunkan pada pertandingan tersebut.
Persija yang unggul teknik, organisasi permainan dan pengalaman langsung tampil menyerang. Pada babak pertama Persija mampu unggul lewat gol yang diciptakan oleh Bambang Pamungkas, 1-0 untuk keunggulan Persija sampai turun minum.
Bambang kembali menyumbang gol pada babak kedua lewat sundulan kepalanya, 2-0 untuk Persija. Persija kembali menambah gol lewat gelandang J. Rocha, 3-0 untuk keunggulan Persija. PESIK hanya mampu memperkecil ketertinggalannya lewat gol yang diciptakan oleh Sindang Jono, 3-1 untuk keunggulan Persija. Score 3-1 untuk kemenangan Persija bertahan sampai pertandingan usai. Pertandingan itu juga mengakhiri TC (training center) yang dilakukan oleh Persija di Kuningan selama 2 minggu.
Masyarakat Kuningan juga merasa sangat terhibur dengan kedatangan tim-tim yang berasal dari divisi utama tersebut, tim-tim dengan pemain yang biasanya hanya bisa disaksikan lewat layar kaca pada saat itu bisa disaksikan secara langsung. Persib menjadi tim Primadona masyarakat Kuningan, hal tersebut dibuktikan dengan jumlah penonton yang membludak pada saat pertandingan PESIK melawan Persib, penonton sampai luber kepinggir lapangan walaupun demikian penonton tidak berbuat sesuatu yang dapat mengganggu jalannya pertandingan. Pertandingan tetap berjalan lancar dan aman. Walaupun penonton tidak sepenuh saat pertandingan PESIK-Persib, pertandingan lainnya tetap memperoleh perhatian dari masyarakat Kuningan, apalagi mereka bermain di Stadion Mashud yang baru saja direnovasi menjadi lebih representatif.
Pertandingan uji coba yang dilakukan oleh PESIK menghadapi ketiga tim kuat dari divisi utama tersebut bisa dijadikan bahan evaluasi bagaimana dan pelajaran oleh PESIK untuk menyongsong masa kompetisi di divisi dua nanti. Walaupun Pesik belum memetik kemenangan, tapi mampu mengimbangi permainan lawan. Sehingga tidak salah jika PESIK optimis dapat menembus Divisi 1 Liga Indonesia

PUTRA DAERAH KUNINGAN : MASHUD WISNUSAPUTRA

Pada 21 Desember 2006 lalu, berhembus kabar gembira dari bumi Solo untuk Kuningan, tepatnya dari Universitas Negeri 11 Maret Solo (UNS). Pada saat itu, universitas ini menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada putra daerah Kuningan, Drs. H. Mashud Wisnusaputra. Tentunya hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi Kuningan, karena kiprah putra daerah Kuningan mendapat perhatian dan penghargaan luar biasa dari para pemerhati pembangunan, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia pendidikan. Dan yang lebih membanggakan lagi, selama 30 tahun UNS berdiri, baru kali ini UNS menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa dan kehormatan itu diberikan kepada Drs. H. Mashud Wisnusaputra.

Atas penghargaan itu, Purbawisesa Crew menyambangi kediaman Mashud Wisnusaputra di Windusengkahan, awal Januari lalu, untuk menggali lebih dalam cerita di balik kesuksesan Pak Mashud, baik sebagai birokrat maupun pengusaha. Berikut adalah hasil liputan Purbawisesa Crew, Dian Rahmat Yanuar, Agus Mauludin, Donis Kadarisman, dan Tatiek Ratna Mustika.
Dengan mengenakan pakaian gamis dan sorban di bahu, Pak Mashud menerima kami di ruang kerjanya, didampingi istri Ibu Nini Sjahnidar Sikar, serta Ibu. Hj. Utje Ch. Suganda yang menjadi fasilitator kami untuk bertemu dengan Pak Mashud. Perbincangan malam itu berlangsung hangat, walau usianya sudah senja, Pak Mashud masih lantang bertutur dan masih mampu mengingat secara detail peristiwa yang dialaminya berpuluh tahun yang lampau. Hal ini menandakan kemampuan berpikir dan bernalar yang berada di atas rata-rata orang seusianya, bahkan usia dibawahnya. Tidak mengherankan, karena sejak kecil Pak Mashud memang lebih menonjol dibanding rekan-rekannya. Pada saat Pak Mashud bersekolah di Sekolah Dokter Hewan pun selama 12 kwartal dia menduduki rangking pertama di kelasnya. Suatu prestasi yang sulit disamai rekan sebayanya pada masa itu.
Uniknya, walaupun berlatar belakang pendidikan ilmu kehewanan, namun kariernya di dunia birokrasi diawali di bidang militer. Pendidikan kemiliteran awalnya diterima Pak Mashud saat bersekolah di Sekolah Kedokteran Hewan Bogor, yang menetapkan didikan militer yang keras. Karena dinilai cukup berbakat, Pak Mashud dikirim untuk mengikuti sekolah kemiliteran Seinen Korenso di daerah Bidaracina, Jatinegara, Jakarta. Pendidikan militer yang cukup berat berhasil dilaluinya, bahkan Pak Mashud diangkat sebagai komandan militer sekolah tersebut.
Pak Mashud kemudian bergabung Batalyon I Brigade V Divisi Siliwangi, salah satu komandan batalyon I yang bermarkas di Cirebon Suardi Wikantaatmaja, memintanya untuk bertanggung jawab atas perbekalan anggota batalyon. Pemuda Mashud ternyata mampu menyuplai kebutuhan batalyon, bahkan permintaan yang sulit pun, seperti jas hujan yang hanya bisa dibeli di Jakarta, bisa dipenuhinya. Pada masa itu, mobilitas orang dari kota ke kota masih sulit dilakukan, mengingat Indonesia sedang dalam keadaan perang dan sering dicurigai sebagai mata-mata. Tapi Mashud muda dengan mudahnya bolak-balik Jakarta – Cirebon, ternyata statusnya sebagai mahasiswa membuatnya lolos dari kecurigaan penjajah.
Kiprah Pak Mashud di dunia militer semakin terasah dengan berbagai pengalaman perjuangan yang dialaminya. Setelah terjadi Agresi I, Mashud kebetulan berada di Kuningan untuk melaksanakan praktek kerja lapangan. Pada saat terjadi Agresi I, Kuningan ditinggalkan oleh para polisi, sehingga Belanda yang akan menyerang Kuningan mundur ke Cirebon. Pengosongan kota ini sengaja dilakukan dengan harapan terjadi kekacauan, seperti yang terjadi di daerah Cilimus dan Caracas, dimana warga etnis Cina dibakar oleh massa. Dengan mengerahkan seluruh rekan-rekannya di PETA, Mashud berjaga-jaga di sekitar Pasar Kepuh dan Siliwangi yang merupakan daerah Pecinan saat itu. Mereka meredam keresahan masyarakat yang sudah bersiap-siap menyerang etnis Cina di Kuningan. Alhamdulilah, dengan kepiawaiannya berkomunikasi kerusuhan itu urung terjadi di Kuningan.
Pengalaman dan pendidikan militer, mengantarkannya menjadi intelligence Indonesia. Pendidikan intelligence, diperolehnya setelah mengikuti Basic Military Training untuk infantri di pusat pendidikan militer Fort Benning (Georgia) dan dilanjutkan dengan pendidikan militer Fort Belvoir (Virginia).
Pada tahun 1968, karier di birokrat sipil mulai dijalaninya, walaupun tujuan awalnya adalah untuk menyelamatkan Departemen Pertanian yang merupakan depertemen paling kaya dan sumber devisa negara. Saat itu, sektor pertanian dan keuangan di Indonesia sudah hampir dikuasai PKI, Pak Mashud memperoleh tugas berat untuk membersihkan departemen dari kekuasaan PKI. Pada tahun 1970, keamanan di Indonesia sudah lebih terjamin dan Depatemen Pertanian telah dibersihkan dari unsur PKI. Sekali lagi Pak Mashud berhasil membuktikan keahliannya sebagai security agent.

Pak Mashud menolak usulan tersebut karena akan kembali mengkerdilkan Departemen Pertanian yang sudah mulai solid. Akhirnya Pak Mashud mengeluarkan gagasan konsep bimas dan inmas, yang bertujuan untuk meningkatkan produksi beras Indonesia. Ternyata pola itu disetujui pemerintah dan akhirnya membuahkan hasil yang manis. Setelah 14 tahun berjuang, pada tahun 1984 Indonesia dinyatakan sebagai negara surplus beras dan bahkan sampai mendapatkan Penghargaan FAO - PBB yang diterima oleh Presiden Soeharto.
Tahun 1973, pada usia 50 tahun, Pak Mashud memutuskan untuk berhenti sebagai pejabat birokrat dan memutuskan untuk menjadi pengusaha. Dia harus menampik tawaran sebagai duta besar dan duta di FAO Roma, Italia. Pak Mashud berpikir bahwa hidup harus dimanfaatkan semaksimal mungkin. Akhirnya, tahun itu Pak Mashud mendirikan PT Yunawati yang memproduksi dan mendistribusikan obat-obat pertanian dan pupuk. Nama Yunawati diambil dari gabungan nama ibunya, Ayunah dan salah seorang anaknya Ernawati.
Pemikirannya sangat rasional. Saat ditanya apa yang menjadi prinsip hidupnya dan mengapa Pak Mashud memutuskan untuk menjadi enterpreneur dan menolak jabatan baru yang ditawarkan kepadanya. Dengan tegas dia menjawab, ”Dalam hidup kita tidak boleh bersandar pada kebaikan teman, keluarga bahkan anak kita sekalipun. Kita harus menyandarkan hidup kita pada kekuatan diri kita sendiri. Caranya kita harus berusaha agar kita kuat. Kita yang menentukan sendiri bagaimana hidup kita”. Sambil menerawang, Pak Mashud menekankan kembali, ”Jika kita berkuasa, maka kita hidup karena kekuasaan. Jika kita tidak punya kekuasaan, maka kita harus kuat dalam materi, artinya kekayaan harus dinaikkan. Saya berpesan pada generasi muda untuk berpikir mandiri, karena saat kita butuh bantuan belum tentu orang bisa membantu”. Lanjutnya, ”Suatu saat saya pasti harus berhenti karena kekuasaan itu tidak abadi. Saya harus membuat diri saya kuat. Dengan menjadi pengusaha saya yakin saya bisa kuat. Kebetulan saya memiliki bakat wiraswasta sejak muda. Dulu waktu masih sekolah saya sering membawa barang-barang dari Jakarta untuk dijual di Kuningan, atau sebaliknya. Selain itu, saya memiliki networking yang baik, maka dari itu saya memutuskan mendirikan PT Yunawati”.
Prioritas pembangunan Indonesia pun berubah. Mulai 1970, kesejahteraan rakyat menjadi target utama. Sejak itu pula keahlian Pak Mashud di bidang pertanian mulai diuji. Pada masa itu Indonesia mengalami rawan pangan, kebutuhan beras Negara dipenuhi dengan banyak mengimpor beras dari luar. Muncul gagasan untuk memecah Departemen Pertanian. Pak Mashud juga memberikan wejangan yang sangat bermanfaat bagi para pengusaha, bahkan wejangan ini juga bisa diterapkan oleh Penikmat Purbawisesa. Pak Mashud memberikan masukan, ”Jika ingin berhasil, jangan terlalu memforsir diri jika tidak ada biaya. Support first, harus ada dukungan dana dulu. Kalau dana menyusul maka hasilnya tidak baik. Pada saat masa growth (pertumbuhan), adalah masa yang paling rentan dan merupakan kelemahan dari suatu usaha atau program. Pada masa itu banyak pesaing atau pemerhati yang ’menyerang’ usaha atau program kita. Kita harus berhati-hati menyiasati masa pertumbuhan ini. Pada saat kita berhasil melewati masa pertumbuhan ini, berhentilah membuat inovasi. Biarkan usaha kita stabil dulu. Ini yang disebut dengan masa survival, dimana kita harus memperkuat diri. Setelah yakin dengan kekuatan kita, kembali lakukan inovasi, back to growth. Itu strategi usaha, yang sudah saya alami sendiri”.
Saat dimintai pendapatnya tentang kemajuan pembangunan di Kuningan, Pak Mashud menilai positif hasil pembangunan di Kuningan. ”Saya senang melihat banyak sekali kemajuan signifikan yang dicapai Kuningan di bawah kepemimpinan Bupati H. Aang Hamid Suganda. Banyak hal yang sebelumnya seperti sulit terealisasi, ternyata mampu diwujudkan”, ujarnya.


”Saya menilai ada eagerness untuk membangun Kuningan sebagai daerah asalnya. Semangat ini yang dimiliki Bupati H. Aang. Semangat ingin membangun Kuningan mendorongnya menjadi Bupati agar cita-citanya memajukan Kuningan dapat diwujudkan.” tegasnya. Pak Mashud melanjutkan, ”Semangat ini, membedakan cara kerja Bupati H. Aang dengan bupati lainnya. Berangkat dari latar belakang pengusaha, membuatnya memiliki perhitungan resiko atau calculaty risk yang baik. Buktinya pembangunan jalan lingkar Pramuka diatas lahan yang kurang berfaedah, malah membuat daerah tersebut menjadi lebih bermanfaat.” Pak Mashud hanya berpesan untuk tahun ini agar Pemkab segera menyelesaikan pembangunan yang belum selesai, lalu memeliharanya dengan baik. Karena terlalu memforsir diri juga tidak baik. Bagaimana pun hasil pembangunan yang telah dicapai harus dipelihara dengan baik agar masyarakat dapat terus merasakan hasil pembangunan dalam jangka waktu yang cukup lama.
Pak Mashud memang cukup fasih berbicara masalah pembangunan di Kuningan. Tidak heran jika Pak Mashud dikukuhkan sebagai Sesepuh Pembangunan Kuningan. Sumbangsih Pak Mashud dalam pembangunan Kuningan juga tidak bisa disepelekan. Belum lama ini, Pak Mashud menghibahkan 171,3 hektar tanahnya yang berlokasi di desa Padabeunghar untuk kepentingan Kebun Raya Kuningan. Sebelumnya Pak Mashud juga telah membangun Gedung Serbaguna di Komplek Kodim Kuningan, Mesjid Al Mashud, aula dan ruang kuliah di STAI Al Ihya Cigugur. Dan yang paling monumental adalah stadion Mashud Wisnusaputra yang menjadi kebanggaan warga Kuningan. Apalagi pada tahun ini Pemkab Kuningan telah melengkapi prasarana stadion tersebut sehingga lebih representatif. Penambahan fasilitas itu berupa tribun penonton, gerbang masuk, lampu penerang stadion, fasilitas parkir, kantin, ruang ganti, serta fasilitas lainnya.
Kepeduliannya dalam pembangunan juga menjadi salah satu dasar penilaian Pak Mashud untuk dianugerahi gelar Doctor Honoris Causa. Selain itu, pertimbangan lainnya adalah karena Pak Mashud termasuk konseptor keberhasilan Indonesia dalam berswasembada pangan. Pak Mashud pun dianggap mampu membangun dan menyatukan Departemen Pertanian hingga mampu mewujudkan aspek security and welfare di bidang pertanian. Dharma bakti Pak Mashud di bidang sosial kemasyarakatan, seperti menjadi dewan penyantun di beberapa perguruan tinggi di Jawa Barat, pembina dan pemelihara kebudayaan Asmat dan budaya Sunda. Kesemuanya itu menjadi satu paket utuh yang membuat Pak Mashud dinilai layak mendapat gelar doktor kehormatan.
Tak hanya sukses dalam karier, Pak Mashud bersama istri tercinta, Ibu Nini Sjahnidar Sikar, berhasil membina keluarga bahagia dan mengantarkan kedua anaknya menjadi mandiri. Kini masing-masing anaknya sedang merintis perusahaan sendiri. Pada tahun ini Pak Mashud dan Ibu Nini Sikar akan merayakan Ulang Tahun Perkawinan Emas mereka. Walaupun terdapat perbedaan usia sampai 11 tahun, keduanya bisa saling mengisi, mengayuh biduk rumah tangga selama 50 tahun.
Saat ditanya tentang kesan mendampingi Pak Mashud, Ibu Nini hanya berucap singkat, ”Yang jelas saya bangga sekali mendampingi Bapak selama ini. Saya merasakan benar bagaimana Bapak seperti mengasuh saya. Walau saya mendampingi Bapak sebagai ibu rumah tangga saja”.
Bukan Ibu saja yang bangga, kami warga Kuningan pun bangga dengan segala prestasi dan sumbangsih yang telah diberikan Pak Mashud. Selamat Pak, semoga Bapak sehat selalu.

PERJALANAN PANJANG MENYELAMATKAN HUTAN KUNINGAN

Orang tentu tak menyangkal jika Kuningan identik dengan kesejukan dan keindahan alamnya. Gunung Ciremai yang berdiri tegak di sebelah barat Kuningan seolah menguatkan keindahan dan kekayaan alam yang dianugerahkan Sang Pencipta kepada Kuningan. Sayangnya, seiring perjalanan waktu kegagahan Ciremai terkalahkan oleh keserakahan dan ketamakan manusia, yang tanpa henti dan tak mengenal batas mengeksploitasi hutan Ciremai.
Kini, Ciremai sedang berduka. Fungsinya sebagai daerah tangkapan air telah rusak akibat penebangan pohon liar ataupun pembakaran hutan secara sengaja untuk membuka lahan pertanian. Ironisnya sampai saat ini pelaku pengrusakan hutan itu tidak pernah terungkap. Padahal, hutan merupakan sumberdaya alam terpenting dan salah satu faktor kekuatan yang dimiliki Kabupaten Kuningan. Dengan luas hutan mencapai 50.450,77 Ha, secara tipologis sangat menunjang keberlangsungan pembangunan masyarakat di berbagai bidang kehidupan.
Adalah seorang Aang Hamid Suganda, sosok Bupati Kuningan yang sangat peduli pada kelestarian hutan Kuningan. Dalam pembangunan kehutanan, H. Aang Hamid Suganda menaruh perhatian serius. Perhatian serius ini, diberikan tidak hanya sebagai bentuk apresiasi kepemimpinannya sebagai seorang bupati, namun juga sebagai pencinta lingkungan sejati. Kenangan indah masa kecil, bermain di sawah, menghirup sejuknya udara Kuningan, tak pernah terhapus dari ingatannya. Meski lama merantau ke kota lain, kenangan kota kelahiran tidak pernah hilang. Sejalan dengan tugasnya sebagai seorang Bupati, upaya pelestarian lingkungan diimplementasikan dalam berbagai program.
Program-program yang dirintisnya antara lain, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM), pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan, peningkatan kelembagaan dan ekonomi masyarakat, penggunaan konsep hulu hilir dalam pemanfaatan sumber daya air, percepatan rehabilitasi lahan kritis, pembangunan Kebun Bibit Permanen (KBP), persemaian bergulir di 32 kecamatan, menggagas perubahan fungsi kawasan lindung Gunung Ciremai menjadi Taman Nasional, Program Pengantin Peduli Lingkungan, pembangunan Kebun Raya Daerah Kuningan di Desa Padabeunghar, pembinaan hutan rakyat dan pengembangan aneka usaha kehutanan, pengembangan hutan kota, pengamanan dan perlindungan hutan serta upaya mewujudkan Kabupaten Kuningan menjadi Kabupaten Konservasi.
Program PHBM merupakan kolaborasi multipihak yang bertumpu pada partisipasi dan pemberdayaan masyarakat. Di Kuningan, PHBM diimplementasikan sebagai sistem pengelolaan sumberdaya hutan yang digerakkan oleh partisipasi masyarakat dengan berlandaskan semangat berbagi (sharing) pada tataran input, proses, maupun output.
Pembangunan KBP seluas 2 ha ditujukan sebagai sentra produksi bibit yang memenuhi kebutuhan bibit yang berkualitas dalam rangka rehabilitasi lahan. Bibit yang sudah diproduksi sebanyak 1.600.000 batang dengan jenis bibit jati, albasiah, mahoni, suren, bungur, sukun, rasamala, akasia, melinjo dan pala. Pembangunan persemaian bergulir di 32 kecamatan juga dilaksanakan sebagai upaya mendukung percepatan rehabilitasi lahan.
Satu lagi program unik yang digagas Bupati H. Aang, adalah Pepeling (Pengantin Peduli Lingkungan), dimana setiap pasangan pengantin yang menikah di Kuningan, dihimbau untuk menyerahkan bibit pohon sebanyak 10 buah sebagai penyerta mahar. Nantinya bibit pohon ini dapat ditanam di lahan milik pengantin atau diserahkan kepada kepala desa untuk ditanam di lahan kritis. Selama kurun waktu tahun 2006 tercatat 81.320 batang bibit yang telah disumbangkan oleh pasangan pengantin.

Kesemua program yang telah dicanangkan tersebut diarahkan menuju terwujudnya kabupaten konservasi. Kabupaten konservasi diartikan sebagai wilayah administratif yang melaksanakan pembangunan berlandaskan pemanfaatan berkelanjutan, perlindungan system penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman hayati, yang ditetapkan berdasarkan kriteria tertentu. Tujuan diselenggarakannya Kabupaten Konservasi adalah tercapainya kesejahteraan masyarakat yang tinggi dan terjaganya kawasan, peran dan fungsi konservasi di wilayah kabupaten tersebut.
Sejak tanggal 2 Februari 2006, para pihak di Kabupaten Kuningan telah mendeklarasikan Kuningan sebagai kabupaten konservasi, berdasarkan penunjukan Direktur Fasilitasi Penataan Ruang dan Lingkungan Hidup Depdagri sebagai salah satu dari 6 kabupaten di Indonesia yang diuji coba sebagai kabupaten konservasi. Pendeklarasian kabupaten konservasi didasari oleh karakteristik wilayah serta kebijakan-kebijakan yang sudah dan sedang dilaksanakan, antara lain system PHBM, perubahan fungsi Gunung Ciremai menjadi taman nasional, pembangunan kebun raya, hutan kota, program Pepeling, program pelestarian hutan, tanah dan air.
Walaupun tanpa niatan berorientasi pada penghargaan, keseriusan Bupati H. Aang dalam melakukan inovasi dan terobosan dalam pembangunan kehutanan beroleh perhatian. Pada puncak peringatan Hari Krida Pertanian, Pemerintah Propinsi Daerah Jawa Barat menobatkan Bupati Kuningan sebagai Bupati Peduli Kuningan Terbaik Pertama tingkat propinsi. Puncak penghargaan di bidang pembangunan kehutanan diterima Bupati H. Aang dari Wakil Presiden Jusuf Kalla belum lama ini di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Pada saat itu, Bupati H. Aang memperoleh penghargaan sebagai Bupati Terbaik Peduli Kehutanan tingkat nasional.
Jadi, penghargaan yang didapat adalah sebuah perjalanan panjang menyelamatkan hutan Kuningan demi kesejahteraan masyarakat. Bukan penghargaan yang diperoleh secara instant. Penghargaan yang diperoleh merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi Pemkab Kuningan dengan masyarakat. Penghargaan itu merupakan buah dari kerelaan dan kesadaran kita bersama untuk melestarikan hutan di Kuningan. Tanpa kesadaran dan dukungan masyarakat tidak mungkin program pembangunan kehutanan yang telah digulirkan pemerintah akan berhasil. Untuk itu, hendaknya kita semakin meningkatkan kesadaran pribadi untuk mau mempertahankan kelestarian alam Kuningan. Alam Kuningan lestari masyarakat berseri. Alam Kuningan merana masyarakat binasa. Silakan memilih yang mana anda suka.